
Dengan menjajal pengalaman persamaan dan perbedaan dalam kerajinan arsitektur serta adat istiadat antara China dan Indonesia, saya merasakan adanya resonansi budaya,” ujar Nur Anisa Triyana dari Indonesia.
“Meski struktur kayu bangunan kuno di Kota Kuno Qingyan, Provinsi Guizhou, China barat daya, berbeda dengan arsitektur tradisional Indonesia, keduanya sama-sama menekankan estetika simetris dan fungsi lingkungan. Perbedaan dan persamaan ini memberi kami banyak bahan untuk mempelajari serta memahami budaya arsitektur tradisional kedua negara,” imbuh Nur.
Sebagai salah satu peserta, Nur yang berusia 24 tahun datang ke Guizhou dari Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk kali pertama dan mengaku memperoleh banyak pengalaman berharga.
“Orang-orang di sini sangat ramah dan hangat. Budaya etnis yang beragam dan kuliner yang lezat membuat kami merasa seperti di rumah sendiri, dan cuacanya juga sejuk,” kata Nur penuh antusias saat berbagi kesan pertamanya tentang Guizhou.
“Saya sudah tertarik dengan budaya China sejak kecil. Saya sangat senang mendapat kesempatan mengunjungi Guizhou untuk belajar lebih banyak tentang budaya setempat. Batik dan sulaman di Guizhou sangat indah. Pakaian tradisional Indonesia, Kebaya, juga banyak menampilkan sulaman dan batik yang cantik,” jelas Nur sambil menunjuk busana adatnya. “Kami mengenakannya saat pernikahan dan acara penting, sama seperti kelompok etnis di Guizhou.

Selama kunjungan ke Guizhou, guru SMA asal Indonesia, Roeri Handayani, menampilkan tarian khas bersama rekan-rekannya untuk memperkenalkan budaya etnis dari berbagai pulau di Indonesia. Pernah menampilkan seni tari dan lagu Indonesia di Beijing pada 2012, dia mengaku kagum melihat perubahan besar di China saat ini.

“Lebih dari satu dekade berlalu, teknologi China berkembang pesat. Di sejumlah objek wisata di Guizhou, saya melihat anjing robot yang lucu. Dengan pembayaran melalui ponsel pintar, kami bisa dengan mudah menyewa kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk perjalanan ramah lingkungan. Di Kota Kuno Qingyan, saya membeli banyak produk budaya dan kreatif sebagai hadiah bagi keluarga,” ujar Roeri. “Digitalisasi dan kecerdasan buatan membuat hidup masyarakat sangat nyaman.”
“Kini banyak warga China bepergian, membuka usaha, atau belajar di Indonesia. Sementara itu, siswa-siswa di sekolah Indonesia juga secara khusus mempelajari bahasa Mandarin dan memilih bekerja di perusahaan China di Indonesia setelah lulus,” lanjut Roeri.
“Saya berharap pertukaran dan kerja sama pendidikan antara China dan ASEAN terus diperdalam, sehingga memberi lebih banyak peluang bagi guru serta pelajar muda ASEAN untuk terlibat dalam pertukaran mendalam dan memahami budaya serta sejarah satu sama lain.” kata dia.
Dari kursus berbasis platform digital bersama hingga pertukaran pengalaman dalam pengembangan disiplin ilmu, kerja sama pendidikan China-ASEAN kini dibangun di atas resonansi budaya sebagai fondasi dan didorong oleh pemberdayaan teknologi, membentuk jaringan kerja sama pendidikan yang komprehensif dan multilevel.
Seperti disampaikan Songheang, “Pemuda adalah kekuatan pendorong masa depan. Melalui inovasi bersama dan pelatihan talenta antara pemuda China dan ASEAN, kita tidak hanya menulis babak baru kerja sama pendidikan, tetapi juga masa depan komunitas regional dengan berbagi nasib yang sama.

